karimun jawa

Rabu, 13 Oktober 2010

PRO DAN KONTRA TES KEPERAWANAN TES KEPERAWANAN SEBAGAI SYARAT MASUK SEKOLAH, PEMBUNUHAN KARAKTER PEREMPUAN

Keperawanan memang adalah hal yang sangat penting bagi seorang wanita. Wanita dianggap masih suci ketika dia bisa menjaga keperawanannya dengan baik terutama di negara yang masih menganut agama sebagai pedoman hidup semacam Indonesia yang masih kental dengan adat ketimurannya sendiri. Masih kita ingat dengan jelas, berita mengenai tes keperawaan sebagai syarat masuk sekolah SMP, SMA dan perguruan tinggi. Issue mengenai wacana yang di usulkan pertama sekali oleh DPRD Provinsi Jambi, Bambang Bayu Suseno, terkait dengan peningkatan mutu pendidikan, sampai hari ini masih menjadi pro dan kontra di kalangan masyarakat. Secara mendalam tes keperawanan itu sendiri sebenarnya sudah melanggar HAM, dimana di dalam UUD kebebasan adalah hak seluruh masyarakat indonesia. Pembukaan UUD 1945 tentang Hak Asasi Manusia telah menegaskan hak-hak setiap warga, Pasal 28C, ayat (1) Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapatkan pendidikan dan memperolah manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia. Pada ayat (2) pasal yang sama, juga menegaskan bahwa setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa, dan negaranya.
Ketika ditemui Pembantu dekan I UMA jurusan Psikologi Drs. Zuhdi Budiman, M.si menyatakan “ Tes keperawanan itu tidak penting dan hanya akan menimbulkan gejolak sosial yang baru. Bagaimanapun itu hanya menguntungkan salah satu pihak saja, sedangkan perempuan adalah orang-orang yang dirugikan dalam hal ini. Yang seharusnya ada bukanlah tes keperawanan itu sendiri, melainkan memperbaiki sistem pendidikan, moral dan lingkungan dimana para remaja tumbuh dan berkembang. Karena faktor ketiga itulah hal yang paling penting dalam menjaga moralitas bangsa.”.
Bagaimanapun memang keperawanan adalah hal yang amat penting bagi seorang perempuan, tapi apakah itu bisa menjadikan tolak ukur untuk jadi manusia yang baik, keadilan di negeri ini masih jauh dari harapan. Bagaimana dengan lelaki, apa pernah dipertanyatakan dia masih perjaka atau tidak, kenapa hanya wanita saja yang menjadikan negara ini bingung dengan masalah perawan atau tidak perawan saja. Jika ada Prasyarat tes keperawanan bagi perempuan di Indonesia tersebut mengindikasikan betapa lalainya pemerintah dalam mengatasi ketimpangan antara laki-laki dan perempuan. Demikian halnya, wacana tes keperawanan yang bergulir akhir-akhir ini dibuat yang diperuntukkan bagi calon pelajar SMA dan Perguruan Tinggi akan memberikan masalah sosial baru di masyarakat sehingga terjadinya keresahan sosial dalam masyarakat.

“Kalo sudah seperti ini, seharusnya disekolah-sekolah ada pendidikan seksualnya, tapi bukan untuk mempelajari bagaimana cara berhubungan intim melainkan mempelajari secara mendalam mengenai itu hingga kedampak biologis dan sosialnya. Manusia adalah mahluk yang belajar, dan karena itu manusia semakin tau dia akan semakin mengerti mana yang baik dan benar untuk dirinya. Bukan dengan mengadakan tes keperawanan yang sebenarnya tidak penting untuk dilakukan.” Ujar Pembantu Dekan I jurusan Psikologi UMA ini menambahkan.
Pendapat mengenai inipun banyak menuai pro dan kontra bergulir dari masyarakat yang mendengarkan kabar tes keperawanan untuk syarat masuk sekolah, seperti halnya penolakan banyak dilakukan dari berbagai pihak seperti hal yang diungkapkan IR (24) aktivis salah satu organanisasi yang bergerak di bidang keagamaan mengungkapkan “ itulah buah kapitalis yang membebaskan remaja untuk berbuat apa saja termasuk seks bebas, yang mengetahui wanita perawan atau tidak seharusnya Cuma suami kita sajakan, pendidikan itu untuk menuntut ilmu bukan untuk tes perawan. Pendidikan itu tempat untuk menuntut ilmu dan merubah pribadi menjadi lebih baik, semua orang berhak mendapatkan pendidikan, jadi jika ada tes keperawanan untuk masuk ke lembaga pendidikan itu bukan solusi untuk remaja saat sekarang ini.”
Berbeda halnya dengan pendapat yang diungkapkan YU (20) mahasiswa Psikologi UMA “ tes keperawanan untuk anak SMA dan Perguruan Tinggi itu sah-sah saja dalam situasi saat ini, itu boleh-boleh saja karena pergaulan pada saat ini terlalu bebas.”
Sama halnya dengan pendapat yang diungkapkan mahasiswa Unimed jurusan “bagus biar para remaja tidak terlalu bebas. Dengan adanya tes perawan itu menjadikan filter dan para remaja tidak berani untuk melakukan seks bebas. Karena mulai dari perempuanlah itu bermula, jadi kita harus sadar apa yang harus kita jaga.”
Masalah perawan atau tidak perawan sebenarnya bukanlah solusi menjadikan negera ini baik. Tidak sedikit kerugian yang akan diakibatkan oleh tes keperawanan tersebut bila betul-betul diterapkan oleh pemerintah, seperti kerugian psikologis, sosiologis, dan ekonomis. Dampak secara sosiologis saja, para remaja akan menjaga jarak untuk berinteraksi dengan teman sebayanya akibat adanya stigma negatif (aib) tidak lagi perawan. Itu membuatkan trauma dan secara psikologis juga cenderung murung, malu, menutup diri sehingga tidak dapat lagi mengembangkan potensi dirinya secara maksimal untuk berpartisipasi di masyarakat. Secara ekonomis, remaja yang berpredikat tidak lagi perawan akan dipandang rendah di masyarakat sehingga tidak lagi dihargai sebagai perempuan yang layak dihargai. Tidak kalah pentingnya adalah ia akan mendapatkan predikat wanita nakal, murahan, brengsek, sampah masyarakat, dan julukan merendahkan lainnya. Padahal penting diingat bahwasannya kepintaran seseorang bukanlah dari dia masih perawan atau tidaknya saja.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar