karimun jawa

Minggu, 15 Januari 2012

PERJANJIAN DENGAN RAJA SEMESTA UNTUK PERI KECILKU



            Di hidupku aku berjanji pada raja semesta untuk melindungi seseorang yang teramat sangat indah senyumnya, kau tau senyumnya lebih indah dari matahari, bulan dan bintang. Ketika dia tersenyum kau akan merasakan dunia ini indah. Tapi sayangnya dia tidak hanya tersenyum, hidup memang selalu banyak tantangankan. Hidupnya tidak sesederhana dan tidak sebagus yang terlihat. Ketika kau tatap mata sendunya, kau akan tahu berat bebannya sebagai orang pertama yang punya tanggung jawab besar dipundaknya. Aku rasakan itu ketika menatap matanya dan aku tersedot masuk kedalam matanya hingga sekarang.  Terutama ketika dia menangis dan tangisanya mengenai kulit ragamu. Kau akan merasakan betapa kerasnya kehidupan menempanya. Dunia terasa kabur dan berkunang-kunang di mataku. Aku tidak tahan lagi dengan semua itu, Jadilah aku membuat perjanjian dengan raja semesta seperti ini kemarin sore-sore di hari tidak hujan di bawah jendela rumah tua berwarna hijau muda.
            Raja semesta kau dengar aku?
            Aku berjanji akan melindungi orang ini diantara hidupku kelak.
            Jika waktu mempecundangi hidupnya,
            ijinkan aku melindunginya dari jarum jam yang menusuk.
            Jika arah angin membuatnya tidak tahu arah kemana kaki melangkah,
            Ijinkan aku membantunya untuk membawanya kearah angin yang mencipta mimpi.
Itulah isi perjanjianku dengan Raja semesta. Kau tahu selama ini tidak ada masalah yang berlaku dengan perlindungan itu. pernah beberapa kali aku menuruti apa mau dia dan untuk menyenangkannya aku patuhi apapun yang dimintanya. Bahkan ketika aku sedang tidak ingin lakukan maunya, masih tetap aku berusaha melakukan. Kau tahu, ternyata dibalik semua itu ada setan. Setan yang selama ini berada tepat dimatanya kini berubah menjadi besar dan kini berada tepat disebelahnya. Setan yang kian hari kian membesar itu selalu menyeringai ketika menatapku. Memang hidup itu memang tidaklah mudah, apalagi semenjak ada setan yang merusak semua rencana yang telah aku buat untuk melindunginya. Dia porak-porandakan rencana yang kususun rapi di rak buku rencana yang akan kuhidangkan kelak pada Raja Semesta ketika aku menghadapNya. Setan itu membuang puzzle kehidupan di lubang api dan membakarnya dan yang tertinggal hanyalah mozaik satu demi satu. Aku bahkan tidak tahu mozaik yang tertinggal apakah kebaikan atau keburukan. Akhir dari semuanya adalah ketika dia mencurigai aku merusak kehidupannya dan membuatnya murka kepadaku. Dia hempaskan semua mozaik yang kutunjukkan kepadanya kemarin sore di hari hujan. Tapi kau tahu, dia menghempaskannya hingga aku terjatuh. Dia mengatakan kepadaku itu hanyalah kebohongan belaka untuk menjebakknya. Aku hanya terdiam saat itu, kakiku tidak lagi kuat untuk berpijak ketanah. Airmataku akhirnya tumpah juga ketika aku menghadap Raja semesta di malam kemudian. Aku limbung.
            Raja semesta, kau dengar aku?
 Tapi, meskipun demikian hari ini aku berjanji kembali menghadapMu. Raja semesta, meski luka ini terus menganga dan semakin lebar, Aku akan bertahan hingga habis darah ini, hingga jantung yang kau berikan tidak lagi berdenyut kemudian raga menjadi kaku. Sebab aku telah berjanji padaMu untuk selalu menjaganya dan tidak membuatnya bersedih apapun keadaan dan dalam keadaaan seperti apapun. senyumnya adalah pengobat luka, jadi biarkan aku mati ketika aku tidak lagi sanggup dengan tetap melihatnya tersenyum untukku di hari terakhirku di mataku yang kian buta.
           
            Hari-hari yang terjadi kemudian tidak semakin baik memang, tapi aku tetap berpegang  teguh daripada aku harus menyerah pada setan yang tertawa diseberangku melihat keadaan aku yang compang-camping. Setan mendekati dan berbisik padaku untuk menyerah pada keadaan ini, tapi aku menepisnya. Tapi sayangnya itu hanya berlaku padaku, ketika dia berbisik kepada dia. Kau tahu dia bahkan bukan lagi percaya, tapi sangat percaya. Limbung saat itu juga tubuhku, pijakkan tanah tidak sekeras pertama kali kupijakkan. Aku bingung harus apa lagi, kekuatanku sudah tidak sebanding dengan setan yang kini memerah seperti api disebelah dia yang senyumnya kini kian palsu didepanku. Hanyalah topeng yang dibawanya kemana-mana untuk menutupi keaslian dirinya yang kian rapuh. Aku galau. Malam demi malam aku menghadap Raja Semesta untuk mendamaikan hatiku. Siang demi siang juga aku menghadap raja semesta untuk membuatku kuat dalam keadaan terlemahkku ketika aku mengahadapinya. Akhirnya malam tadi aku menghadap Raja semesta untuk mengadu.
            Raja semesta kau dengar aku?
            Bagaimana kali ini aku harus mengatakan kepadaMu  Raja Semesta?
Aku gagal melakukan tugasku. Dia baru saja membunuhku dengan pisau bermata 7 dan rohku sudah terlepas dari raga, padahal belum selesai upacara persembahan pengusir setan. Raja semesta, sakit rasa ketika ketika pisau bermata 7 itu menancap tepat dihatiku. Mati tapi tak mati, tapi sakit ini merontokkan raga. Tulangku pun terasa ngilu. Tapi meskipun begitu aku tidak pernah mendendam untukknya, karena aku tahu itu bukan inginnya, mungkin setan itu telah berkuasa dihatinya Raja  Semesta.
Raja semesta, aku pikir aku akan tetap bertahan sekali lagi untuk tetap disini. Aku akan     menuntaskan tugasku, setelah itu aku akan ikut denganMu. Masih bolehkah??

Dengan keadaanku yang lemah, akhirnya kuhentikan semua rencanaku sesaat. Kubiarkan setan kali ini puas dengan apa yang dilakukannya. Aku sudah terlalu lama memang tidak jeda dari semuanya. Raja semesta kemarin mengingatkan aku. Untuk beberapa saat kubiarkan dia sendiri tanpa kutemani. Mungkin saja dengan demikian dia akan memaafkan kesalahanku yang kian membatu dihatinya. Mungkin saja dengan demikian dia akan ingat kenangan denganku dan kemudian kami bisa memulainya dari awal. Bukankah itu yang lebih indah dari semua. Aku tidak lagi harus bersembunyi ketika aku ingin melihat senyumnya yang tanpa topeng. Diam-diam mengintai terkadang membuat aku lelah juga, hingga terkadang aku merasa putus asa dan tidak percaya diri. Hingga di malam yang panasnya menusuk aku kembali mengadu.
Raja Semesta, kau dengar aku?
Saat sakit ini kembali bernanah dihari yang lain. Dia menyiramnya dengan air panas kali ini, tidaklah itu cukup untuk membakar luka yang menganga.

            Kau tahu ternyata Raja Semesta berbisik kepadaku, Raja Semesta mengatakan padaku ujian ini cobalah untuk bertahan sedikit lagi. Janganlah menyerah, tapi hanya kau beri jeda pada keadaan ini. Keadaan dimana kau lelah dan tidak sanggup melangkah. Kau tahu, saat itu aku menangis mendengarnya, aku juga tidak mengerti kenapa aku menangis. Aku terharu, aku sedih, aku rapuh, aku galau, aku kacau. Dan aku sangat senang ternyata Raja Semesta menjawabku. Memang selalu pantas ketika Raja Semesta selalu dikatakan Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Disaat jedaku, aku tidaklah pernah menyangka ternyata semua makhluk Raja Semesta yang tidak aku duga terus mendukungku. Dengan berada disampingku, aku jadi merasa tidak sendiri. Aku lepaskan bebanku itu sejenak dan kubuang penatku agar berkurang sedikit bawaanku. Meski begitu ketika aku bermain, masih saja aku mengkhawatirkan dia. Apakah dia hidup dengan baik? Apakah dia sudah makan dengan teratur? Apakah dia tidak lupa berdoa pada Raja Semesta? Apakah dia mengenakan baju hangat ketika dingin? Siapakah orang yang dihubunginya ketika dia tidak berani berjalan dimalam gelap? Aku terlalu khawatir.
Lambat-laun semuanya menjadi lebih baik. Dia tidak lagi seganasnya kemarin ketika dia menancapkan pisau bermata 7 dihatiku. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan dia sebenarnya, setan yang kemarin tertawa-tawa disampingnyapun hanya bungkam. Setan itu hanya tersenyum lemah kepadaku. Meskipun demikian aku tidak ingin lagi salah melangkah. Aku biarkan dia sendiri, mungkin dengan begitu aku jadi tahu ini hanya jebakan atau bukan. Baru mungkin setelahnya setelah semua keadaan menjadi lebih baik aku akan mulai melangkah maju dan berada di depannya untuk bertarung dengan setan yang setiap saat mengikuti kemanapun pergi.
Raja Semesta, kau dengar aku?
Hari ini sudah lebih baik dari pada kemarin. Luka ini semakin lama semakin kering. Sepertinya aku akan melangkah kembali di hari besok yang cerah. Hari dimana mimpi akan melebur menjadi satu harapan.  Aku harap Kau masih selalu bersamaku Raja Semesta. Aku akan kembali memenuhi janjiku padaMu Raja Semesta. Tunggu aku melakukan tugasku dengan baik, aku akan segera ikut denganMu.
            Selesai melakukan ritual yang biasa kulakukan menghadap Raja Semesta. Pagi ini langkahku sangatlah ringan untuk dijejakkan. Tidaklah lagi aku harus menahan perih ketika aku melangkah seperti kemarin karena luka yang dibuatnya masih belum kering. Senyum yang kuterima dari dia juga semakin tulus, aku merasakan jika ini pertanda baik. Untuk pertanda baik hari ini aku merayakan kesenanganku dengan berbincang dengan Raja Semesta sambil bersantai di sore yang sejuk akibat angin sepoi-sepoi yang menyapa wajahku.
            Raja Semesta kau dengar aku?
Sepertinya tugasku hampir selesai. Sebentar lagi aku akan ikut denganMu. Kau senangkan?
Raja Semesta, masihkah kau ingat jika aku sangat menyukai senyuman dia sejak pertama kali aku melihatnya. Itu senyum tertulus yang kudapatkan. Senyum yang seperti bidadari pagi dihari subuh, sejuk.
Ingatkah pertama kali aku melihat senyumnya di terik siang, senyumannya melebihi terik sinar mentari hari itu. Tahukah aku menunggu senyumannya setiap hari untuk mengisi tenagaku untuk satu hari penuh. Lebih indah daripada Cinta yang terkadang buta. Akhirnya aku akan bisa melihat kembali senyuman yang kurindukan itu. senyuman dimana bunga-bungapun tumbuh subur setelahnya. Aku menunggu hari itu, meskipun ketika hari itu tiba aku akan segera kembali kepadaMu. Senyum yang akan membuat harimu jadi lebih indah, meski sedang berada disituasi terburukpun.

            Masih tidak lagi kulihat setan yang kemarin berwarna merah di sebelahnya. Aku sangat terharu melihat kecerian itu masih ada untukku dan dia. Masa dimana kami tertawa dan menertawakan bersama-sama, kemudian masa dimana tangis membuat kami lebih dewasa melawan takdir. Pisau bermata 7 itupun telah terlepas dari tangannya. Kini tangannya menggenggam bunga. Bunga yang mempunyai 5 kelopak dengan berbagai warna. Aku baru kali ini melihat bunga seindah itu. melihatnya membawa bunga berkelopak 5 dengan berbagai warna, kau tahu aku jadi berbunga-bunga. Dimana-mana aku lihat hanyalah bunga dengan berbagai warna. Menyenangkan hari yang ku lalui. Tapi satu yang sangat kusayangkan, aku haruslah segera pergi setelah puas menikmati senyumnya itu. aku harus segera memenuhi janji pada Raja Semesta. Aku harus siap dimana Raja Semesta menjemput aku dalam keadaan apapun.
            Raja Semesta,
Aku siap kapanpun kau akan menjemputku. Tidaklah aku takut pada apapun lagi. Aku telah menyelesaikan perjanjianku denganMu. Yang terpenting lagi tidak lagi ada gelisah yang kurasakan, hanya rasa bahagia yang meliputiku. Senyum yang kurindukan untukku telah kembali dan aku sangat bersyukur.
Raja semesta, aku akan titipkan hidupnya denganMu. Aku tahu tanpa ku beri tahupun Kau akan melindunginya, tapi aku mohon jangan biarkan dia dengan mudah menangisi hidup yang terkadang sulit. Dan aku juga tidaklah mau dia berlama-lama menangisi pertemuanku denganMu. Selain itu aku ingin kau menjaga orang-orang terkasihku yang selalu kupertaruhkan segalanya demi mereka, sama seperti dia.
Terima kasih Kau telah dengan setia menunggu aku menyelesaikan semuanya Raja semesta. Aku ikut denganMu.

Selesai
Teruntuk sahabatku :
Jadikanlah ini pelajaran kawan. Aku tidak pernah membencipun sekalipun kau menyakiti hatiku. Kau tahu kawan, kaulah orang yang paling kupercaya. Kaulah orang yang paling ingin kulindungi setelah keluargaku. Kaulah orang yang memberi banyak warna dihidupku, menjadikan aku jadi jujur untuk menghadapi hidup yang kian keras. Kaulah orang pertama yang kuanggap saudaraku kawan selain keluargaku dan aku terlanjur mematrikannya di batu. Jadi akan susah untuk menghapusnya. Kau ingat kata-kata yang pernah ku kirim padamu.
“ kenapa kau tak percaya ada ikatan saudara walau kita tak ada ikatan darah....”
Kira2 begitulah isinya kawan. Susah untuk menghapusnya dari ingatan. Kau tahu kawan, ketika aku marah dan sangat membencimu keluargamu memutari kepalaku. Aku terlalu menyayangi kelurgaku dan ‘keluargamu’ jika kau mau percaya itu. sekuat tenaga aku ingin membantumu dan keluargamu, karena dan sebab itu pula aku berteman denganmu. Dari awal pertemuan kita dulu.
Kuharap kau maafkan aku dengan kesalahanku yang buat kau menjauh dariku. Aku selalu berpikir kita bisa selalu membagi suka dan duka untuk meringankan beban masing2. Hiduplah dengan damai, aku akan selalu mendukungmu kawan apapun pilihan hidupmu.
Salam sayang sahabatmu,   
Sahabat Kecil
            By. Ipang BIP

Baru saja berakhir, hujan di sore ini
Menyisakan keajaiban kilauan indahnya pelangi
Tak pernah terlewatkan dan tetap mengaguminya
Kesempatan seperti ini tak akan bisa dibeli.
            Bersamamu kuhabiskan waktu senang bisa mengenal dirimu
            Rasanya semua begitu sempurna, sayang untuk mengakhirinya
Melawan keterbatasan walau sedikit kemungkinan
Tak akan menyerah tuk hadapi biar sedih tak mau datang lagi
            Bersamamu kuhabiskan waktu senang bisa mengenal dirimu
            Rasanya semua begitu sempurna sayang untuk mengakhirinya
            Janganlah berganti...
            Tetaplah seperti ini,
            Janganlah berganti.

Rabu, 13 April 2011

Hentai No Mori (Hutan yg menyesatkan)

Tak lgi dpt brpegangn pda apapun,
Tak lgi bsa prcya pda sapapun,
hanya dri sndri yg hrs kau percyai meski berat n tdk trima.
karna penunjuk jalan yg  benar ada dihatimu.
ketika tersesat dan tak tau arah
pejamkanlah matamu, hatimu akan kirimkan jalan tbaiknya untukmu.

Minggu, 03 April 2011

Sederat Dosa

maaf Tuhan aku khilaf...

ini racun hanya aku  yang teguk,
ini zina hanya au yang rasa,
ini api hanya aku yang hisap,
bunuh diri ini juga hanya aku yang tanggung.

maaf y Tuhan !!!

by. wulan

Minggu, 20 Maret 2011

Embun di Seperempat Pagi


Oleh : Wulan ‘Tsuki Yugure’

Bulan terang benderang di atas sungai, memancarkan cahaya indah. Malam semakin kelam membelam  hanya akan ada sepi yang temani. Aku duduk sendiri di antara bulan dan malam yang kelam, mencari kebahagian di antara bintang yang bertabur di langit malam.
Masih terbayang di kepala kejadian 6 bulan lalu. Tak pernah bisa enyah dari ingatan, bahkan terus hantui aku. Dimanapun, kemanapun aku selalu saja membawa kenangan itu ikut. Seperti rantai dengan  sebongkah batu besar yang selalu gelayuti kaki kemanapun aku melangkah.
Jangan takut…!” kata-kata  yang seharusnya menjadi penenang itu buatku tak ada artinya, malah  itu terdengar sangat menakutkan bila aku mendengarnya .
Kini hatiku gelap akan adanya cinta, yang ada hanya luka yang menganga lebar di atas semua rasa yang aku punya.
****
                       
Pagi ini aku bangun lebih lambat dari biasanya. Badanku rasanya tak ingin beranjak dari tempat tidurku yang nyaman ditambah dengan selimut hangat. Aku mengambil hapeku di atas meja dengan mata setengah terpejam. Pagi ini harus ganti status, karena itu adalah rutinitas baru yang tak akan pernah terlewatkan olehku.
Status pagi ini : malas kali kuliah … jam pertama masih ngantook !!! hoeaaam.
           
Setelah mengganti status yang sebenarnya gak penting buat di komentari aku pun melanjutkan kembali tidurku. Berharap bisa tidur 5 menit lagi. Ini akibat tadi malam aku bergadang sambil online di facebook. Aku chatting dengan orang yang sangat seru hingga aku lupa waktu. Dan … wuaaah aku terbangun jam 07.09 menit, ini sangat gawat. Bagaimana cara aku mengatasi waktu yang terbatas ini? Aku Cuma punya waktu setengah jam 15 menit lagi untuk bisa sampe dikampus tepat waktu dan sekarang aku belum melakukan apapun. Dan jarak tempuh dari rumah ke kampus kira-kira 30 menit.
Gawaat… cmana ini? Mandi aja lah dulu.”
Segera aku menyambar handuk yang ada di belakang pintu kamarku dan langsung beranjak ke kamar mandi. 10 menit  waktuku untuk mandi, sekarang pake baju. Pake baju adalah waktu yang paling banyak menguras pikiran, karena harus memilih yang mana akan kupakai untuk hari ini. Aku melanjutkan kembali aktivitasku dan segera pergi kuliah.
           
            Hari ini aku merasa berat sekali, bukan karena aku sakit. Aku merasa ada yang mengganjal hingga aku merasa perasaanku tak enak hari ini, bahkan akhir-akhir ini. Bawaanku selalu saja melamun ataupun tiba-tiba jantungku berdegup dengan kencang lalu aku merasa sangat sesak tanpa ada kejadian. Apa sebenarnya yang hendak terjadi ?
            “kenapa ?” teman-temanku bertanya setiap  aku menghela nafas “hari ini kau beda dari biasa. Ada kejadian apa ? kesambet setan apa?” aku menjawab hanya dengan senyum.
            Pulang kuliah siang ini aku malas kemana-mana dengan teman-temanku, dan aku memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar disekitar kampusku ini. Setelah mencari tempat yang kuanggap aman, aku segera mengambil laptopku dari dalam tas dan mengaktifkan internetnya. Saatnya online !
            Yang pertama kali kubuka adalah facebook, dan mencari orang untuk chat sambil melanglang buana di dunia maya. Kali ini begitu aku membuka daftar chat online mataku langsung saja mencari seseorang yang akhir-akhir ini sangat asyik di ajak mengobrol. Lelaki itu bernama Mahendra, aku telah mengenalnya lebih dari 2 tahun karena dia adalah seniorku di salah satu kampus. Pasti kalian bertanya kenapa aku tak menemuinya di kampus ? sangat susah untuk bertemu dengannya, dia sudah kerja disalah satu instansi pemerintahan.
[Embun]  pusing bang !
[Mahendra] knapa ?
[Embun] lagi ada masalah, pengen refresinglah!
[Mahendra] refresing kemana ?
[Embun] kemana aja lach. Pokoknya pengen refresing.
[Mahendra] enaknya kemana?
[Embun] pengennya ke taman bermain.
[Mahendra] taman bermain mana asyik. Bagaimana kalo kesuatu tempat yang asyik dan nyaman.
[Embun] dimana itu ?
[Mahendra] Bukit lawang.
[Embun] boleh juga. Kapan?
[Mahendra] enaknya kapan?
[Embun] pengen secepatnya mencuci otak bang.
[Mahendra] minggu ini bagaimana ?
            Aku bengong, kenapa secepat ini. Ini sudah hari kamis dan tinggal 2 hari lagi untuk membuat persiapan. Aku bingung mau ikutan dengannya apa tidak.
[Embun] dengan siapa aja ?
[Mahendra] kita berdua saja.
[Embun] hah... mana asyik.
[Mahendra]  kan tau kalo abang gak suka dengan keramaian. Terserah sih mau nerima atau gak.
[Embun] aku akan pikir kembali. Nanti aku langsung sms abang aja ya ?
[Mahendra] baiklah. Abang tunggu.”
[Embun] OK...

            Setelah berpikir lama, mulai dari berpikir waktu nonton TV, berpikir waktu mandi, berpikir waktu makan, berpikir waktu melamun, akhirnya aku telah mengambil keputusan. Aku mengambil hapeku lalu mengetik sms dan langsung ku kirimkan.
Baiklah bang.
Setelah aku pikir, aku mau ikutan.
Aku percaya sama abang. Aku pikir
Juga tak akan apa-apa. OK bang !!!


            Sudah lama tak bersenang-senang. Aku tak sanggup memikirkan betapa menyenangkannya liburan ini. Aku memegangnya erat dari belakang sambil tetap saja aku memikirkan hal-hal menyenangkan yang akan terjadi dan dia masih melaju dengan kecepatan penuh dengan motornya. Tapi entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang aneh, perasaan cemasku tiba-tiba muncul kembali.

            Kami tiba di tempat itu pukul 21.05 dan langsung saja kami berdua mencari penginapan untuk kami berdua tinggali. Kami mencari yang termurah dan terbaik, dan setelah lelah mencari akhirnya kami mendapatkan penginapan yang sangat strategis. Didepan penginapan itu ada air mengalir. Wuih... betapa menyenangkannya bangun tidur langsung mendengar suara air. Setelah beberes dan ganti baju kami pun langsung saja mencari makan diluar penginapan, sambil menikmati suasana malam di bukit lawang yang dingin ketika malam tiba. Sehabis makan langsung kembali kekamar, dia melihatku mengantuk dan mengajakku kembali. Tiba di kamar aku tak diberi kesempatan untuk tidur, dia mengajak aku bermain kartu remi yang sengaja aku beli disaat-saat seperti ini. Dan aku kalah telak, wajahku sudah dipenuhi dengan lipstik. Dia nyengir, menyebalkan.
            Malam merangkak semakin malam. Mataku juga sudah sangat berat untuk tetap berusaha terbuka.
“aku sudah sangat mengantuk.” Ujarku
“begh... katanya anak alam. Masih jam 1 udah ngantuk, apaan itu” aku tak peduli dia berkata apa, tetap saja aku masuk kamar mandi untuk mencuci wajahku lalu naik ketempat tidur dengan seketika tertidur.
“woi... cepat kali tidurnya.”
“ngantuk bang.” Aku langsung saja tertidur disampingnya tanpa peduli dia lelaki atau pun perempuan.

Hingga pada malam itu, antara mimpi dan nyata ketika kesadaranku hanya 0,5 % Suara itu menerkamku dalam diam, dan genggaman tangan itu menjeratku dalam gelap. Tak dapat berkata-kata, seperti gagu. Diam, hening.
            Aku tersadar ketika aku memegang sesuatu. Aku menghempaskan dia lalu aku kembali terdiam. Apa itu ??? aku menangis sebisaku, melukai tubuhku juga sebisaku. Aku takut...
“embun....” aku masih menangis ketika dia mendekati aku “maafin abang, abang khilaf dek !” dia menggenggam tanganku sambil memohon maaf.
“aku takut...” hanya kata-kata itu yang keluar dari mulutku, tubuhku bergetar
“maafin abang, mohon jangan katakan ini pada siapapun. Abang benar-benar khilaf.”
Aku tetap saja menangis hingga air mataku juga tak ada lagi. Dia tetap menungguiku sambil memohon maaf, hingga akhirnya aku mengangguk. Entah memaafkannya atau tidak, aku tak tau yang ku tahu aku hanya mengangguk.

Tangan-tangan itu mengobrak-abrik jiwaku dan seluruh tubuhku. Aku telah benci dengan diriku sendiri yang terlalu percaya pada orang dan aku benci lelaki munafik yang berkelakuan menjijikkan itu. Aku sangatlah benci dengan sentuhan. Aku juga sangat membenci orang-orang yang mengatakan kata-kata yang membuat aku semakin terpuruk itu.
“jangan takut…tenanglah.”

Aku mulai tak percaya kata yang terucap dari mulutmu, mulut mereka, ataupun mulut kau. Aku hanya mempercayai makna yang ada dihatimu, mendetak dijantungmu dan mengalir di darahmu, karena itu lebih jujur. Aku tak percaya kata-kata orang dewasa, sebab mereka hanya menutupi kesalahan mereka dengan kebohongan. Aku tak percaya laki-laki, sebab mereka hanya ingin kepuasan untuk mereka sendiri dan membiarkan aku menganggung harga mati dan menjaga harga diri mereka. Aku gelap mata, aku tak lagi peduli bunuh diri itu ajaran setan atau apa, tapi aku peduli akan sakit yang ku rasa karena aku telah merasakannya.
Itukah namanya bila aku bingung akan pilihan. Pilihan sulit dalam hidupku ketika harus memilih sakit mana yang akan kulewati. Bunuh diri atau merasakan dan menikmati trauma masa lalu itu membayangi hidupku. Mengirisku tipis-tipis dengan sayatan kecil yang menyakitkan.
Entah….
Masih saja gagu !
Trauma.
***
Jika  aku adalah malam, aku ingin ditemani bintang dan juga bulan di tiap malamku. Dalam gugusan bintang aku merindukanmu disetiap malamku sebab kau adalah komet yang tak selalu ada pada malam-malamku, saat ini hanya impian saja.
            Aku masih mencari kepercayaanku yang hilang  di antara seperempat pagi. Aku tetap meraba malam agar sakit ini tak kutanggung sendiri. Aku ingin berbagi. Aku ingin berbagi denganmu, dengan mereka, dengan dia agar sakit ini tak harus ku tanggung sendiri. Lelaki pertama di malam itu berdiri mematung di depan rumahku.







Sabtu, 12 Maret 2011

BIRU

Biru itu cerah, biru itu keindahan, biru itu cinta, biru itu suka, biru itu sahabat, biru itu motornya, biru itu senyumnya, biru itu segalanya tentang dia.lalu pada malam dihari hujan, tiba-tiba biruku berjelaga. berjelaga, berjelaga, lalu mencair di biruku menetes-netes dibiruku. semua menjadi gelap, hitam pekat. ah... aku tak suka hitam pekat. yang aku mau biru, bukan hitam. bagaimana ini, aku terjebak di dalam biru yang berwarna hitam pekat. aku benci !!!



Jumat, 04 Maret 2011

PLEASE, MY BUS !!!

Aku berlari, dengan kekuatan penuh.

Berlari menujumu.

Aku juga berteriak, memanggilmu dengan kuat

Agar kau mendengar aku.

Please, my bus...

Please, my bus...

Berhentilah, agar aku dapat menjangkau dia.

Agar jarak ini sedikitnya menjadi lebih dekat.

Jangan, jangan kau jauhkan aku dengannya.

Aku takut bila harus kehilangannya.

Please, My bus

tetaplah tinggal untukku,

Atau kau boleh turunkan dia untukku.

Jarak ini sedikit sulit untukku,

bila kau terus saja berjalan meninggalkan aku

please, my bus...

langkahku mulai tak tau arah, dan terhenti

kaki tak sanggup lagi untuk berlari hingga aku tersungkur jatuh

tetap tak jua kau menoleh dan berhenti untukku.

Langkahku mulai gontai tak kau dengarkan aku bicara

Meninggalkan aku tanpa kata.

Baiklah aku akan mengalah,

Please, my bus

Titipkan pesanku untuknya

“ku tunggu di halte berikut !”

By. Wulan

LELAKI UNTUKKU …

OLEH : SRI WULANDARI

Sekejab rasa itu menghilang. Benci tlah rasuki raga hingga tak kenal apa itu rasa. Cinta, sayang, suka hanyalah omong kosong belaka. Cinta itu hanya jebakan untuk membuat jiwa ini perih, layu, lalu mati. Sayang itu hanyalah menunggu rasa yang akan sakiti hati dan suka hanyalah permainan petak umpet yang menyimpan sejuta rasa benci. Duka perlahan menitik seperti gerimis yang membasahi dedaunan lalu deras di tambah halilintar dan petir yang kian menyambar menggelegar , memporak-porandakan semua yang ada di sekitarnya.

Bulan pucat pasi di atas langit yang kian kelam. Sayup-sayup terdengar lolongan anjing atau serigala, entahlah. Aku duduk sendiri di taman ini menanti cerita kekasih yang entah kapan datang kembali. Aku menatap bulan di langit malam, seperti melihat wajah sendiri yang kian seperti mati. Terkadang lewat pasangan-pasangan muda maupun tua yang entah memang kekasihnya atau tidak, aku tak tau dan memang tak ingin mau tau. Malam semakin kelam, sepi kian menggelayut merasuk terasa di seluruh penjuru hati. Dingin juga kian menusuk-nusuk tubuhku. Aku tetap duduk tak bergeming di antara bulan yang kian pucat pasi dan malam yang kian kelam membelam, menanti cerita kekasih yang entah kapan datang lagi.

****

Aku menemukan karunia Tuhan yang sempurna ketika aku dan malam masih bersahabat. Dia menangkupku dengan cinta lalu membawaku pulang.

Lelaki… untukku !

Lelaki itu datang dalam hidupku. Melengkapi warna yang dulu hanya ada hitam dan putih. Lelaki itu membuatku merasakan indahnya hidup. Mencerahkan hari-hari yang kulewati. Membelai dengan kehangatan hingga aku lupa di mana aku berpijak. Duniaku terlalu penuh dengan kebahagiaan, hingga tak ada duka yang berjelaga di antara dinding hidupku. Hidupku sempurna, tak ingin ada yang mengusik dan mengganggu kebahagian kami. Dunia milikku dan dia. Aahh… sungguh indah rasanya.

“hari ini apa kamu akan pulang cepat sayang ???” aku bertanya pagi itu ingin tau kegiataan yang akan dikerjakaannya hari ini

“hari ini aku akan pulang malam sayang, sebaiknya kamu tidur duluan dan jangan menungguku.” Ujar dia dengan gaya khasnya yang lembut. “aku tidak akan meninggalkanmu !” sambil membelai mesra hatiku.

Aku selalu disini, ditempat yang sama,di dalam rumah ini menanti kedatangannya yang membawa cinta untukku. Menyiapkan apapun keinginannya hingga dia memberikan pujian manis yang selalu memabukkanku hingga melayang. Aahh… terlalu indah cintaku untuk diungkapkan. Telah 3 bulan ini kami menjalin kisah cinta. Cinta antara aku dan dia, cinta antar makluk Tuhan, cinta antara cinta, cinta antara manusia, cinta dengan kasih dan hanya cinta ….

Ada yang salah dengan cintaku?

Cintaku tak pernah salah

Orang-orang yang menganggap cinta kami salah. Mengecam dan menghina kami hingga kami tuli dan kami tak peduli.

Apa yang salah?

Cinta tak pernah salah. Hanya karna cinta itu buta dan tak melihat.

“sudahlah sayang, mereka tak akan mengerti tentang kita. Yang tau hanya kau dan aku. Dan yang berjalan juga kau dan aku, bukan mereka…” begitulah kata-katanya yang membuat tenang dan damai.

Ah…semua telah terlanjur dan kami telah menikmati indahnya cinta kami. Aku hidup dengan dia, bukan dengan orang yang terus-terus menghina hidup kami padahal di dalam hati slalu kesepian butuh cinta,haus cinta, miskin cinta dan sangat memimpikan cinta. Kami menikmati hidup kami. Tak pernah ada duka atau luka, yang ada hanya cinta. Cukup hanya untuk aku dan dia, tak perlu ada yang lain.

Lelaki untukku dibulan merah darah…

Cerahnya malam ini sama seperti gambaran hatiku yang semakin merah oleh cinta. Aku menanti kedatangannya di kamar ini, berkaca dan melihat betapa anggun dan cantiknya aku malam ini, walau aku bukan perempuan terindah, tapi…aku hanyalah keindahan malam yang memabukkan. Terlalu lama aku telah menantinya di sini, malam kian larut beranjak sedetik demi sedetik dan semakin sepi. Dia tak kunjung datang. Aku mulai resah gelisah menanti kedatangannya. Aku asa…

Disaat yang sama aku dikagetkan dengan bel pintu berbunyi berulang-ulang, aku beranjak untuk membuka pintu. Aku bertanya siapa yang datang, entahlah aku tak tau? Aku berjalan mendekat dan semakin dekat dengan pintu, membukanya dengan perlahan. Karena malam ini aku merasa tak mengundang siapapun tamu. Terkadang tamuku juga akan langsung memanggilku dan aku bisa menebak siapa yang ada di balik pintu itu. Hari ini aku tak tau siapa yang ada di balik pintu itu, tamu itu diam saja sedari tadi. Tak ada mengucapkan sepatah katapun dan aku curiga.

“happy birthday honey…!!!!” seseorang muncul dengan bunga menutup wajahnya

Aku tak tau siapa dia. Aku memiringkan kepala untuk melihat siapa di balik bunga yang sangat cantik sama seperti malam ini. Betapa terkejutnya aku melihat siapa dibalik bunga indah itu. Aku juga tak menyangka dia akan mengingat hari ulang tahunku yang keluargaku sendiri tak pernah mau mengingat hari luka itu. Air mataku menetes saat aku tak menyadari itu, aku terharu.

“kenapa menangis, sayang?” dia menghapus air mataku dan membawaku kedalam rumah dan mendudukkanku di sofa.

“aku sangat bahagia.”

Aku memeluknya dengan cinta. Lalu memberikan hadiah yang mungkin telah sering kami lakukan berdua ketika dia datang setiap malam, menggulung seperti gelombang laut yang menerpa daratan . Aku bahagia, tak ada luka dan duka di hidupku lagi.

“aku sangat mencintaimu sayang!” ujarnya ketika aku membuka mataku di pagi hari.

“aku juga! Apa kita akan selamanya seperti ini sayang?”

Dia diam sejenak, berpikir mencari jawaban.

“mungkin…??!” diam lama dan tiada henti, aku buyar. Aaah… tapi mungkin hanya perasaanku saja.

Aku merasa aneh, tak pernah aku merasa seaneh malam ini. Aku seperti akan kehilangan sesuatu dalam hidupku lagi. Aku tak mau, aku tak mau lagi ada luka dan duka di hatiku. Cukup sudah masa lalu yang kelam, membutakan mata hingga habis asaku untuk berlari mencari kebahagian. Kebahagian tlah ada di depan mata sekarang. Aku tak sanggup bila harus melepaskan bahagia. Sudah terlalu banyak tangis yang ditahan, sedu sedan yang di simpan. dan aku takkan sanggup melepasnya

Matahari menantang dan cerahnya hari ini membuat aku ingin keluar dan menikmati hari yang telah lama tak kulihat. Berjalan setapak demi tapak, melihat kiri kanan. Anak-anak berlari dan bermain dengan riang gembira, mengingatkan aku pada masa kecilku yang tak ada teman berbagi cerita ataupun bermain. Ayah dan ibuku selalu sibuk dengan diri mereka sendiri, ketika bertemu selalu berkelahi dan menyalahkan aku anak haram yang tak pernah diharapkan. Lalu pergi lagi menjadikan luka untukku. Beberapa pasangan muda perempuan dan lelaki sedang asyik memadu kasih di bawah rimbunnya pohon taman. Membuat iri beberapa pasang mata yang melihat, dan membuatku merasa sangat jengah karena mengingatkan aku pada ayah dan ibuku yang sekarang aku tak pernah tau mereka dimana, atau mungkin aku yang tak pernah mau tau sejak aku berusia 20 tahun.

Angin sepoi-sepoi membelai wajahku. Sudah lama aku tak pernah merasa segar seperti ini. Mungkin karena aku terlalu lama terus-terusan berada diruangan dan jarang menikmati kehidupan luar semenjak bersama dengannya. Tetapi panas terlalu menyengat membuat debu berterbangan naik membuat mataku kemasukkan debu jalanan.

“ah… sudah terlalu panas, lebih baik kembali pulang.”

Mataku tertumbuk pada satu sosok yang aku kenal. Sosok lelaki terindah yang selalu membuat aku bahagia yang selama ini selalu membuat hariku sempurna dan cerah walaupun tanpa mentari. Rasanya siang itu menjadi gelap dan petir menyambar dahsyat di sudut hatiku. Aku tak percaya, dan tak pernah mau percaya. Aku memperhatikan setiap langkah kakinya yang kian lama masuk ke sebuah motel bersama seorang…. Berangkulan dan bergandengan mesra.

Aku tak percaya…

Ini hanya kebohongan

Ini khayalan.

Dia bersama dengan lelaki

***

Malam itu dibalik jendela kamar terlihat bulan pucat pasi, sepertinya akan menggelinding jatuh, meledak dan terburai menjadi kepingan kecil. Dia datang dengan suka, membawa sebuket kebahagian semu. Dia tersenyum dan merangkulku. Aku tak peduli, aku marah dan aku kecewa.

“kenapa?” Aku diam

“apa yang terjadi tadi?”

Aku tetap diam

Aku memang posesif, karena aku tak mau membagi kebahagianku dengan orang lain. Cukup hanya aku dan dia saja yang menikmati, tak ada lagi orang lain yangkan ganggu hidupku dan dia.

“cukup sudah! Diam!!!!”

Dia terkejut dan mundur beberapa langkah dariku

“aku muak dengan apa yang kau ucapkan padaku. Buang semua omong kosongmu soal cintamu.”

“apa maksudmu, sayang?” dia berjalan mendekat

“ jangan panggil aku sayang. Kau pikir aku gak tau apa yang kau lakukan dengan lelaki itu, bergandengan lalu bermesraan di motel murahan itu. Tidak hanya ada aku dihidupmu.”

“itu tidak mungkin…!!” ujarnya membela diri

“apa yang tidak mungkin, aku melihatnya sendiri.” Dia diam

Dia tak bisa membantah kebenaran. Aku semakin gila dan melempar semua yang terjangkau tanganku kepadanya, dia mengelak

“kau penghianat. Kau bilang kau mencintaiku dan hanya aku. Kau pikir aku gak punya hati? Bukan manusia? Tega benar kau!!!”

“sayang aku akan menjelaskan semuanya.” Dia membela diri

“aku akan membunuhmu. Biar hanya aku sendiri yang akan memilikimu.”

“…..”

“mungkin lebih baik seperti itu, kau membuat kecewa. Kau sama dengan orang munafik itu, sama dengan ayah juga ibuku…” aku sesenggukan

Aku mengambil pisau dapur yang terjangkau genggamanku di atas meja makan. Berjalan semakin mendekatinya. Dia meringsek mundur menyelamatkan diri,mencari perlindungan agar tak tergapai olehku. Tetapi sayang dia terpojok dan aku menang. Aku mendekat juga, juga semakin dekat. Mataku gelap. Tak ada cahaya, yang ada sekelebat hitam. Aku menusuk tepat di jantungnya, biar tak ada lagi cinta selain untukku.

“sayang!!!” dia tertatih menggapaiku

Aku tersenyum penuh kemenangan karena sebentar lagi hanya ada dia dan aku.

“aku mencintaimu selamanya.” Dia terkapar tak berdaya lalu mati.

Air mataku tak dapat menetes lagi untuk kehilangan ini. Sudah terlalu banyak tangis yang ditahan, sedu sedan yang di simpan. Waktu telah membekukan lidahku untuk meratap. Dan ini bukanlah sebuah kehilangan.

“sayang aku akan menjagamu selamanya bersamaku. Tak akan ada lagi yang akan merebutmu dariku. Hanya aku…dan kita telah sempurna. Kau dan aku “

Aku membelai mesra wajahnya dengan tanganku yang penuh darah

“kau dan aku… satu !!!”

Cinta aku dan dia, cinta antar makluk Tuhan, cinta antara cinta, cinta antara manusia, cinta dengan kasih, cinta lelaki dengan lelaki terindah ….

Ada yang salah dengan cintaku?

Cintaku tak pernah salah

Orang-orang yang menganggap cinta kami salah. Mengecam dan menghina kami hingga kami tuli dan kami tak peduli.

Apa yang salah?

Cinta tak pernah salah. Hanya karna cinta itu buta dan tak melihat.

***

Sekejab rasa itu menghilang. Benci tlah rasuki raga hingga tak kenal apa itu rasa. Cinta, sayang, suka hanyalah omong kosong belaka. Cinta itu hanya jebakan untuk membuat jiwa ini perih, layu, lalu mati. Sayang itu hanyalah menunggu rasa yang akan sakiti hati dan suka hanyalah permainan petak umpet yang menyimpan sejuta rasa benci. Duka perlahan menitik seperti gerimis yang membasahi dedaunan hingga jadi embun lalu deras di tambah halilintar dan petir yang kian menyambar menggelegar , memporak-porandakan semua yang ada di sekitarnya.

Aku tetap duduk tak bergeming di antara bulan yang kian pucat pasi dan malam yang kian kelam membelam, menanti cerita kekasih yang entah kapan datang lagi.

Rumahcinta, 14 april 2009