Keperawanan memang adalah hal yang sangat penting bagi seorang wanita. Wanita dianggap masih suci ketika dia bisa menjaga keperawanannya dengan baik terutama di negara yang masih menganut agama sebagai pedoman hidup semacam Indonesia yang masih kental dengan adat ketimurannya sendiri. Masih kita ingat dengan jelas, berita mengenai tes keperawaan sebagai syarat masuk sekolah SMP, SMA dan perguruan tinggi. Issue mengenai wacana yang di usulkan pertama sekali oleh DPRD Provinsi Jambi, Bambang Bayu Suseno, terkait dengan peningkatan mutu pendidikan, sampai hari ini masih menjadi pro dan kontra di kalangan masyarakat. Secara mendalam tes keperawanan itu sendiri sebenarnya sudah melanggar HAM, dimana di dalam UUD kebebasan adalah hak seluruh masyarakat indonesia. Pembukaan UUD 1945 tentang Hak Asasi Manusia telah menegaskan hak-hak setiap warga, Pasal 28C, ayat (1) Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapatkan pendidikan dan memperolah manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia. Pada ayat (2) pasal yang sama, juga menegaskan bahwa setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa, dan negaranya.
Ketika ditemui Pembantu dekan I UMA jurusan Psikologi Drs. Zuhdi Budiman, M.si menyatakan “ Tes keperawanan itu tidak penting dan hanya akan menimbulkan gejolak sosial yang baru. Bagaimanapun itu hanya menguntungkan salah satu pihak saja, sedangkan perempuan adalah orang-orang yang dirugikan dalam hal ini. Yang seharusnya ada bukanlah tes keperawanan itu sendiri, melainkan memperbaiki sistem pendidikan, moral dan lingkungan dimana para remaja tumbuh dan berkembang. Karena faktor ketiga itulah hal yang paling penting dalam menjaga moralitas bangsa.”.
Bagaimanapun memang keperawanan adalah hal yang amat penting bagi seorang perempuan, tapi apakah itu bisa menjadikan tolak ukur untuk jadi manusia yang baik, keadilan di negeri ini masih jauh dari harapan. Bagaimana dengan lelaki, apa pernah dipertanyatakan dia masih perjaka atau tidak, kenapa hanya wanita saja yang menjadikan negara ini bingung dengan masalah perawan atau tidak perawan saja. Jika ada Prasyarat tes keperawanan bagi perempuan di Indonesia tersebut mengindikasikan betapa lalainya pemerintah dalam mengatasi ketimpangan antara laki-laki dan perempuan. Demikian halnya, wacana tes keperawanan yang bergulir akhir-akhir ini dibuat yang diperuntukkan bagi calon pelajar SMA dan Perguruan Tinggi akan memberikan masalah sosial baru di masyarakat sehingga terjadinya keresahan sosial dalam masyarakat.
“Kalo sudah seperti ini, seharusnya disekolah-sekolah ada pendidikan seksualnya, tapi bukan untuk mempelajari bagaimana cara berhubungan intim melainkan mempelajari secara mendalam mengenai itu hingga kedampak biologis dan sosialnya. Manusia adalah mahluk yang belajar, dan karena itu manusia semakin tau dia akan semakin mengerti mana yang baik dan benar untuk dirinya. Bukan dengan mengadakan tes keperawanan yang sebenarnya tidak penting untuk dilakukan.” Ujar Pembantu Dekan I jurusan Psikologi UMA ini menambahkan.
Pendapat mengenai inipun banyak menuai pro dan kontra bergulir dari masyarakat yang mendengarkan kabar tes keperawanan untuk syarat masuk sekolah, seperti halnya penolakan banyak dilakukan dari berbagai pihak seperti hal yang diungkapkan IR (24) aktivis salah satu organanisasi yang bergerak di bidang keagamaan mengungkapkan “ itulah buah kapitalis yang membebaskan remaja untuk berbuat apa saja termasuk seks bebas, yang mengetahui wanita perawan atau tidak seharusnya Cuma suami kita sajakan, pendidikan itu untuk menuntut ilmu bukan untuk tes perawan. Pendidikan itu tempat untuk menuntut ilmu dan merubah pribadi menjadi lebih baik, semua orang berhak mendapatkan pendidikan, jadi jika ada tes keperawanan untuk masuk ke lembaga pendidikan itu bukan solusi untuk remaja saat sekarang ini.”
Berbeda halnya dengan pendapat yang diungkapkan YU (20) mahasiswa Psikologi UMA “ tes keperawanan untuk anak SMA dan Perguruan Tinggi itu sah-sah saja dalam situasi saat ini, itu boleh-boleh saja karena pergaulan pada saat ini terlalu bebas.”
Sama halnya dengan pendapat yang diungkapkan mahasiswa Unimed jurusan “bagus biar para remaja tidak terlalu bebas. Dengan adanya tes perawan itu menjadikan filter dan para remaja tidak berani untuk melakukan seks bebas. Karena mulai dari perempuanlah itu bermula, jadi kita harus sadar apa yang harus kita jaga.”
Masalah perawan atau tidak perawan sebenarnya bukanlah solusi menjadikan negera ini baik. Tidak sedikit kerugian yang akan diakibatkan oleh tes keperawanan tersebut bila betul-betul diterapkan oleh pemerintah, seperti kerugian psikologis, sosiologis, dan ekonomis. Dampak secara sosiologis saja, para remaja akan menjaga jarak untuk berinteraksi dengan teman sebayanya akibat adanya stigma negatif (aib) tidak lagi perawan. Itu membuatkan trauma dan secara psikologis juga cenderung murung, malu, menutup diri sehingga tidak dapat lagi mengembangkan potensi dirinya secara maksimal untuk berpartisipasi di masyarakat. Secara ekonomis, remaja yang berpredikat tidak lagi perawan akan dipandang rendah di masyarakat sehingga tidak lagi dihargai sebagai perempuan yang layak dihargai. Tidak kalah pentingnya adalah ia akan mendapatkan predikat wanita nakal, murahan, brengsek, sampah masyarakat, dan julukan merendahkan lainnya. Padahal penting diingat bahwasannya kepintaran seseorang bukanlah dari dia masih perawan atau tidaknya saja.
karimun jawa
Tampilkan postingan dengan label bulan_senja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bulan_senja. Tampilkan semua postingan
Rabu, 13 Oktober 2010
Sumpah Pemuda yang Terlupakan Zaman
Kami putra-putri indonesia bertanah air satu, tanah air indonesia;
Kami putra-putri indonesia berbangsa satu, bangsa indonesia;
Kami putra-putri indonesia berbahasa satu, bahasa indonesia;
( sumpah pemuda, 28 oktober 1928)
Masihkah ingat dengan jelas isi sumpah pemuda di atas, cerminan pemuda-pemudi bangsa yang kini terlupakan zaman setelah memasuki era modern dan semakin berkembangnya teknologi membuat sumpah pemuda pun terlupakan dewasa ini. Bahkan hanya sebagian kecil pemuda-pemudi yang hapal dengan fasih isi sumpah pemuda yang dulunya dengan penuh perjuangan setengah mati oleh organisasi pemuda pada tahun 1928, yang seharusnya sumpah tersebut menjadi bagian penting dalam kemajuan bangsa indonesia.
1. Sejarah
Sejarah mencatat sumpah pemuda bermula dari dari hasil rumusan Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia atau lebih dikenal dalam buku-buku sejarah disebut dengan Kongres Pemuda II yang dibacakan pertama kali pada tanggal 28 oktober 1928, yang pada kemudian tanggal ini menjadi hari peringatan “Hari Sumpah Pemuda”. Rumusan sumpah pemuda itu sendiri ditulis oleh Muhammad Yamin ketika Mr. Sunario sebagai utusan kepanduan tengah berpidato dalam sesi terakhir kongres. Sumpah pemuda ini awalnya dibacakan pertama kali oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan oleh M. Yamin.
Gagasan penyelanggaraan Kongres Pemuda Kedua sebenarnya berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), organasasi pemuda yang anggotanya adalah pelajar dari seluruh Indonesia dan para peserta Kongres Pemuda II ini berasal dari berbagai wakil organisasi pemuda yang ada pada waktu itu seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun, PPPI, Pemuda Kaum Betawi, dll. Di antara mereka hadir pula beberapa orang pemuda Tionghoa sebagai pengamat, yaitu Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie serta Kwee Thiam Hiong sebagai seorang wakil dari Jong Sumatranen Bond. Diprakarsai oleh AR Baswedan pemuda keturunan arab di Indonesia mengadakan kongres di Semarang dan mengumandangkan Sumpah Pemuda Keturunan Arab. Dan atas inisiatif PPPI pada waktu itu, kongres dilaksanakan langsung di tiga gedung berbeda dan dibagi menjadi 3 kali rapat. Rapat pertama, sabtu tanggal 27 oktober 1928 di gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein (sekarang adalah lapangan Banteng) yang membahas mengenai semangat persatuan dalam sanubari para pemuda saat itu yang dibawakan oleh ketua PPI Sugondo Djojopuspito. Rapat kedua, pada minggu tanggal 28 oktober 1928 di gedung Oost-Java Bioscoop yang membahas mengenai pendidikan. Pembicaranya adalah Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, yang berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan dirumah. Dan rapat ketiga, dilaksanakan di gedung Indonesia Clubgebouw di Jalan Keramat Raya 106 yang (kemudian tempat ini menjadi Gedung Sumpah Pemuda hingga sekarang), dan Sunario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan ini sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal yang dibtuhkan dalam perjuangan.
Sebelum kongres ditutup diperdengarkan lagu "Indonesia Raya" karya Wage Rudolf Supratman untuk pertama kalinya yang dimainkan dengan biola tanpa syair, atas saran Sugondo kepada Supratman pada waktu itu. Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh para peserta kongres. Kongres ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh para pemuda yang hadir, rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Setia.
2. Pudarnya Sumpah Pemuda pada Masa Kini
Semangat pemuda Indonesia telah lahir kala tercetusnya sumpah pemuada pada tahun 1928. Komunitas-komunitas pemuda lokal telah banyak meyakini akan hadirnya sebuah bangsa tanpa penindasan. Keyakinan itulah yang pada akhirnya menentukan pemuda Indonesia dalam meretas perjuangan kemerdekaan. Walau sebenarnya pada tahun 1917 telah terdapat kumpulan pemuda Jawa yang mengatasnamakan “Tri Koro Darmo (Jong Java)”. Menariknya, pemuda kala itu adalah masyarakat Indonesia yang mempunyai semangat pembebasan nasional. Mereka yang dapat bersosialisasi dengan masyarakat, mereka yang dapat memberikan pendidikan gratis, mereka yang bersemangat membangun organisasi pembebasan nasional. Ya, itulah makna pemuda kala itu, dimana pemuda menjadi ujung senjata kekuatan rakyat.
Sejarah mencatat tanggal 28 oktober adalah peringatan sumpah pemuda, dan itu diperingati hingga sekarang. Tapi, apakah masih sama peringatan yang dilakukan oleh pemuda-pemudi bangsa indonesia dulu dan sekarang. Zaman yang semakin berubah mengikuti perkembangan zaman yang semakin menuntut kita untuk selalu mengikuti arah zaman modern yang perjalanannya sangat cepat dan itulah pula faktor utama pemuda-pemudi sekarang tak pernah lagi peduli dengan sejarah yang dulunya dipertahankan setengah mati oleh pejuang dulu.
Pada awal sumpah pemuda di peringati dengan mengumandangkan lagu indonesia Raya pertama kali oleh W.R. Supratman tanpa syair hanya menggunakan biola. Dan intinya membacakan isi sumpah pemuda dan menjadikan itu sumpah setia yang harus direalisasikan. Pada dewasa ini, sumpah pemuda hanyalah sekedar upacara bendera biasa dengan juga membacakan isi sumpah pemuda yang setelahnya mungkin hanya ucapan yang diucapkan oleh yang katanya putra dan putri Indonesia.
Pemuda-pemudi bangsa indonesia pada waktu pergerakan awal sangat bersemangat untuk mengubah bangsa indonesia menjadi lebih maju padahal pada saat itu indonesia belum merdeka, mereka memperjuangkan anak-anak bangsa menjadikan mereka lebih baik untuk kedepannya membantu dalam hal pembangunan bangsa hingga pada akhirnya Indonesia merdeka.
Kesetian terhadap tanah air memang menjadi suatu hal yang prinsipil. Suatu prinsip hanya dapat diukur dengan pikiran yang terkait dengan tindakkan. Dengan begitu, pemuda tanpa tindakkan hanya akan menjadi candu dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Apalagi dalam konteks kehidupan sosial hari ini yang telah jauh dari konsep keadilan. Dimana keadilan menjadi suatu hal yang bias dalam kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia. Haruslah para pemuda-pemudi kembali memupuk rasa perjuangan itu, bukan ditinggalkan atau dilupakan karena indonesia masih sangat membutuhkan orang-orang yang berkompeten untuk menjadikan indonesia sebagai negara maju. Perjalanan bangsa indonesia masih sangat panjang.
Pemuda- pemudi pada masa kini seakan bias dengan arti sumpah pemuda, karena mungkin dewasa ini tidak mengalami secara persis sama dengan yang dialami dengan pejuang pemuda pada masa itu yang padahal sebenarnya dari dulu hingga sekarang sumpah pemuda sendiri masih sangat dibutuhkan, bagaimana tidak jika dulu Pemuda-pemudi bangsa Indonesia bergelut dengan kolonialisme bangsa asing, hari ini bangsa Indonesia bergelut dengan kebijakan pemerintah bangsa sendiri yang terkadang sulit diatur. Artinya, tanggung jawab moral seorang pemuda merupakan menyelesaikan suatu kebenaran dan konsep keadilan yang masih abstrak. Sehingga pemuda menjadi basis kekuatan kembali dalam tatanan Negara Indonesia. Karena pada dasarnya, perjuangan pemuda adalah mendidik rakyat dengan apa yang mereka punya, apa yang mereka butuhkan dan apa yang mereka rasakan. Sehingga identitas masyarakat tercipta dengan sendirinya dan pemuda hanya menjadi pendukung atas lahirnya semangat kemerdekaan yang terkekang.
Pemuda-pemudi bukankah menyadari dan memulai dengan hal terkecil untuk bangsa indonesia dengan menjadikannya negara terindah yang ada dimuka bumi, dengan menjadikan bangsa lain hanya sebagai pedoman untuk berubah lebih baik lagi kedepan demi mengembangkan dan memajukan dengan membanggakan bangsa sendiri bukan membangga-banggakan bangsa lainnya yang mungkin lebih maju. Menyadari potensi besar dalam diri indonesia yang penuh dengan ragam budaya berbeda, tempat-tempat wisata terindah, makanan-makanan khas tiap daerah, dan juga kekhasan tiap wilayah yang ada diseluruh penjuru Indonesia yang menjadikannya kaya akan rasa persatuan, membuatnya menjadi salah satu modal dasar untuk maju. Sebenarnya apa yang kurang dari bangsa indonesia ini ?
Hanya Indonesia masih sangat memerlukan pemuda-pemudi yang berkualitas serta keberanian yang tak mampu diperjualbelikan. Dengan begitu indonesia bukan hanya kuat dan tak mudah diadu domba bangsa lain tapi juga maju, dan yang paling penting rakyat indonesia haruslah produktif dan kreatif bukan komsumtif. Kapan bisa kita wujudkan ???
3. Sumpah Pemuda yang Terlupakan Zaman, benarkah ???
Indonesia telah lama merdeka semenjak tahun 1945 tapi keadaan di indonesia hanya sangat jauh dari yang namanya maju. Terlalu banyak tantangan di dalam negeri ini sebenarnya, Ada segelintir orang yang malah lebih percaya dengan ucapan orang luar, ada juga segelintir orang yang hanya memikirkan kemakmuran dirinya sendiri, juga ada segelintir orang yang lebih tidak peduli dengan apapun yang terjadi. Pemudalah sebenarnya tonggak dari semuannya, merekalah yang seharusnya bersemangat untuk berjuang memajukan bangsa barulah mungkin masyarakat pasti akan mendukung tindakan kebenaran untuk bersama-sama maju kedepan. Bukankah manusia itu jenis orang yang akan mengikuti orang yang diaggapnya benar.
Sebenarnya pemuda-pemudi indonesia masih peduli dengan yang namanya sumpah pemuda, mereka bahkan masih ingat dengan jelas isi dari sumpah pemuda itu dan juga tanggal sumpah pemuda itu sendiri diperingati. Mereka bahkan sangat miris melihat negara indonesia yang semakin lama semakin tak kenal apa itu keadilan.
“ negeri kita ini perlu diperbaiki mulai dari dalam, karena semua orang mementingkan dirinya sendiri dan itu berakar sampe kepemimpin-peminpin negara. Bagaimana negara bisa maju. Sebaiknya para pemuda haruslah punya jiwa besar untuk segera menyongsong masa depan, jangan hanya mau bicara” pernyataan mahasiswa berinisial TH (21) ketika ditanya mengenai makna sumpah pemuda sekarang ini.
Tak jauh berbeda dengan pernyataan LA (20) ketika ditanya pertanyaan yang sama dia menyampaikan. “ buktikan kalo seluruh pemuda di indonesia mencintai bangsanya, kita harus mencontoh para pejuang yang sangat bersemangat untuk merdeka. Kita juga seharusnya semangat juga untuk menjadi negara yang maju. Percuma saja ada semboyan bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Ayo... kita sama-sama menjadikan indonesia maju.”
Ketika ditanya seperti itu bukankah para pemuda sangat bersemangat untuk menjadikan bangsa kita menjadi lebih baik, jadi sebenarnya dimana salahnya dari bangsa kita ini ? mungkin sebagian besar telah melupakan semboyan lama tersebut “ bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” dan mungkin ini juga yang menyebabkan indonesia semakin lama semakin jauh dari maju, karena para pemuda sendiri telah melupakan semboyan itu. Sebaiknya kita bersatu untuk membuat negara ini baik. Bukankah itu yang kita mimpikan, jangan hanya bicara !!!
Kami putra-putri indonesia berbangsa satu, bangsa indonesia;
Kami putra-putri indonesia berbahasa satu, bahasa indonesia;
( sumpah pemuda, 28 oktober 1928)
Masihkah ingat dengan jelas isi sumpah pemuda di atas, cerminan pemuda-pemudi bangsa yang kini terlupakan zaman setelah memasuki era modern dan semakin berkembangnya teknologi membuat sumpah pemuda pun terlupakan dewasa ini. Bahkan hanya sebagian kecil pemuda-pemudi yang hapal dengan fasih isi sumpah pemuda yang dulunya dengan penuh perjuangan setengah mati oleh organisasi pemuda pada tahun 1928, yang seharusnya sumpah tersebut menjadi bagian penting dalam kemajuan bangsa indonesia.
1. Sejarah
Sejarah mencatat sumpah pemuda bermula dari dari hasil rumusan Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia atau lebih dikenal dalam buku-buku sejarah disebut dengan Kongres Pemuda II yang dibacakan pertama kali pada tanggal 28 oktober 1928, yang pada kemudian tanggal ini menjadi hari peringatan “Hari Sumpah Pemuda”. Rumusan sumpah pemuda itu sendiri ditulis oleh Muhammad Yamin ketika Mr. Sunario sebagai utusan kepanduan tengah berpidato dalam sesi terakhir kongres. Sumpah pemuda ini awalnya dibacakan pertama kali oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan oleh M. Yamin.
Gagasan penyelanggaraan Kongres Pemuda Kedua sebenarnya berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), organasasi pemuda yang anggotanya adalah pelajar dari seluruh Indonesia dan para peserta Kongres Pemuda II ini berasal dari berbagai wakil organisasi pemuda yang ada pada waktu itu seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun, PPPI, Pemuda Kaum Betawi, dll. Di antara mereka hadir pula beberapa orang pemuda Tionghoa sebagai pengamat, yaitu Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie serta Kwee Thiam Hiong sebagai seorang wakil dari Jong Sumatranen Bond. Diprakarsai oleh AR Baswedan pemuda keturunan arab di Indonesia mengadakan kongres di Semarang dan mengumandangkan Sumpah Pemuda Keturunan Arab. Dan atas inisiatif PPPI pada waktu itu, kongres dilaksanakan langsung di tiga gedung berbeda dan dibagi menjadi 3 kali rapat. Rapat pertama, sabtu tanggal 27 oktober 1928 di gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein (sekarang adalah lapangan Banteng) yang membahas mengenai semangat persatuan dalam sanubari para pemuda saat itu yang dibawakan oleh ketua PPI Sugondo Djojopuspito. Rapat kedua, pada minggu tanggal 28 oktober 1928 di gedung Oost-Java Bioscoop yang membahas mengenai pendidikan. Pembicaranya adalah Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, yang berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan dirumah. Dan rapat ketiga, dilaksanakan di gedung Indonesia Clubgebouw di Jalan Keramat Raya 106 yang (kemudian tempat ini menjadi Gedung Sumpah Pemuda hingga sekarang), dan Sunario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan ini sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal yang dibtuhkan dalam perjuangan.
Sebelum kongres ditutup diperdengarkan lagu "Indonesia Raya" karya Wage Rudolf Supratman untuk pertama kalinya yang dimainkan dengan biola tanpa syair, atas saran Sugondo kepada Supratman pada waktu itu. Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh para peserta kongres. Kongres ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh para pemuda yang hadir, rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Setia.
2. Pudarnya Sumpah Pemuda pada Masa Kini
Semangat pemuda Indonesia telah lahir kala tercetusnya sumpah pemuada pada tahun 1928. Komunitas-komunitas pemuda lokal telah banyak meyakini akan hadirnya sebuah bangsa tanpa penindasan. Keyakinan itulah yang pada akhirnya menentukan pemuda Indonesia dalam meretas perjuangan kemerdekaan. Walau sebenarnya pada tahun 1917 telah terdapat kumpulan pemuda Jawa yang mengatasnamakan “Tri Koro Darmo (Jong Java)”. Menariknya, pemuda kala itu adalah masyarakat Indonesia yang mempunyai semangat pembebasan nasional. Mereka yang dapat bersosialisasi dengan masyarakat, mereka yang dapat memberikan pendidikan gratis, mereka yang bersemangat membangun organisasi pembebasan nasional. Ya, itulah makna pemuda kala itu, dimana pemuda menjadi ujung senjata kekuatan rakyat.
Sejarah mencatat tanggal 28 oktober adalah peringatan sumpah pemuda, dan itu diperingati hingga sekarang. Tapi, apakah masih sama peringatan yang dilakukan oleh pemuda-pemudi bangsa indonesia dulu dan sekarang. Zaman yang semakin berubah mengikuti perkembangan zaman yang semakin menuntut kita untuk selalu mengikuti arah zaman modern yang perjalanannya sangat cepat dan itulah pula faktor utama pemuda-pemudi sekarang tak pernah lagi peduli dengan sejarah yang dulunya dipertahankan setengah mati oleh pejuang dulu.
Pada awal sumpah pemuda di peringati dengan mengumandangkan lagu indonesia Raya pertama kali oleh W.R. Supratman tanpa syair hanya menggunakan biola. Dan intinya membacakan isi sumpah pemuda dan menjadikan itu sumpah setia yang harus direalisasikan. Pada dewasa ini, sumpah pemuda hanyalah sekedar upacara bendera biasa dengan juga membacakan isi sumpah pemuda yang setelahnya mungkin hanya ucapan yang diucapkan oleh yang katanya putra dan putri Indonesia.
Pemuda-pemudi bangsa indonesia pada waktu pergerakan awal sangat bersemangat untuk mengubah bangsa indonesia menjadi lebih maju padahal pada saat itu indonesia belum merdeka, mereka memperjuangkan anak-anak bangsa menjadikan mereka lebih baik untuk kedepannya membantu dalam hal pembangunan bangsa hingga pada akhirnya Indonesia merdeka.
Kesetian terhadap tanah air memang menjadi suatu hal yang prinsipil. Suatu prinsip hanya dapat diukur dengan pikiran yang terkait dengan tindakkan. Dengan begitu, pemuda tanpa tindakkan hanya akan menjadi candu dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Apalagi dalam konteks kehidupan sosial hari ini yang telah jauh dari konsep keadilan. Dimana keadilan menjadi suatu hal yang bias dalam kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia. Haruslah para pemuda-pemudi kembali memupuk rasa perjuangan itu, bukan ditinggalkan atau dilupakan karena indonesia masih sangat membutuhkan orang-orang yang berkompeten untuk menjadikan indonesia sebagai negara maju. Perjalanan bangsa indonesia masih sangat panjang.
Pemuda- pemudi pada masa kini seakan bias dengan arti sumpah pemuda, karena mungkin dewasa ini tidak mengalami secara persis sama dengan yang dialami dengan pejuang pemuda pada masa itu yang padahal sebenarnya dari dulu hingga sekarang sumpah pemuda sendiri masih sangat dibutuhkan, bagaimana tidak jika dulu Pemuda-pemudi bangsa Indonesia bergelut dengan kolonialisme bangsa asing, hari ini bangsa Indonesia bergelut dengan kebijakan pemerintah bangsa sendiri yang terkadang sulit diatur. Artinya, tanggung jawab moral seorang pemuda merupakan menyelesaikan suatu kebenaran dan konsep keadilan yang masih abstrak. Sehingga pemuda menjadi basis kekuatan kembali dalam tatanan Negara Indonesia. Karena pada dasarnya, perjuangan pemuda adalah mendidik rakyat dengan apa yang mereka punya, apa yang mereka butuhkan dan apa yang mereka rasakan. Sehingga identitas masyarakat tercipta dengan sendirinya dan pemuda hanya menjadi pendukung atas lahirnya semangat kemerdekaan yang terkekang.
Pemuda-pemudi bukankah menyadari dan memulai dengan hal terkecil untuk bangsa indonesia dengan menjadikannya negara terindah yang ada dimuka bumi, dengan menjadikan bangsa lain hanya sebagai pedoman untuk berubah lebih baik lagi kedepan demi mengembangkan dan memajukan dengan membanggakan bangsa sendiri bukan membangga-banggakan bangsa lainnya yang mungkin lebih maju. Menyadari potensi besar dalam diri indonesia yang penuh dengan ragam budaya berbeda, tempat-tempat wisata terindah, makanan-makanan khas tiap daerah, dan juga kekhasan tiap wilayah yang ada diseluruh penjuru Indonesia yang menjadikannya kaya akan rasa persatuan, membuatnya menjadi salah satu modal dasar untuk maju. Sebenarnya apa yang kurang dari bangsa indonesia ini ?
Hanya Indonesia masih sangat memerlukan pemuda-pemudi yang berkualitas serta keberanian yang tak mampu diperjualbelikan. Dengan begitu indonesia bukan hanya kuat dan tak mudah diadu domba bangsa lain tapi juga maju, dan yang paling penting rakyat indonesia haruslah produktif dan kreatif bukan komsumtif. Kapan bisa kita wujudkan ???
3. Sumpah Pemuda yang Terlupakan Zaman, benarkah ???
Indonesia telah lama merdeka semenjak tahun 1945 tapi keadaan di indonesia hanya sangat jauh dari yang namanya maju. Terlalu banyak tantangan di dalam negeri ini sebenarnya, Ada segelintir orang yang malah lebih percaya dengan ucapan orang luar, ada juga segelintir orang yang hanya memikirkan kemakmuran dirinya sendiri, juga ada segelintir orang yang lebih tidak peduli dengan apapun yang terjadi. Pemudalah sebenarnya tonggak dari semuannya, merekalah yang seharusnya bersemangat untuk berjuang memajukan bangsa barulah mungkin masyarakat pasti akan mendukung tindakan kebenaran untuk bersama-sama maju kedepan. Bukankah manusia itu jenis orang yang akan mengikuti orang yang diaggapnya benar.
Sebenarnya pemuda-pemudi indonesia masih peduli dengan yang namanya sumpah pemuda, mereka bahkan masih ingat dengan jelas isi dari sumpah pemuda itu dan juga tanggal sumpah pemuda itu sendiri diperingati. Mereka bahkan sangat miris melihat negara indonesia yang semakin lama semakin tak kenal apa itu keadilan.
“ negeri kita ini perlu diperbaiki mulai dari dalam, karena semua orang mementingkan dirinya sendiri dan itu berakar sampe kepemimpin-peminpin negara. Bagaimana negara bisa maju. Sebaiknya para pemuda haruslah punya jiwa besar untuk segera menyongsong masa depan, jangan hanya mau bicara” pernyataan mahasiswa berinisial TH (21) ketika ditanya mengenai makna sumpah pemuda sekarang ini.
Tak jauh berbeda dengan pernyataan LA (20) ketika ditanya pertanyaan yang sama dia menyampaikan. “ buktikan kalo seluruh pemuda di indonesia mencintai bangsanya, kita harus mencontoh para pejuang yang sangat bersemangat untuk merdeka. Kita juga seharusnya semangat juga untuk menjadi negara yang maju. Percuma saja ada semboyan bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Ayo... kita sama-sama menjadikan indonesia maju.”
Ketika ditanya seperti itu bukankah para pemuda sangat bersemangat untuk menjadikan bangsa kita menjadi lebih baik, jadi sebenarnya dimana salahnya dari bangsa kita ini ? mungkin sebagian besar telah melupakan semboyan lama tersebut “ bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” dan mungkin ini juga yang menyebabkan indonesia semakin lama semakin jauh dari maju, karena para pemuda sendiri telah melupakan semboyan itu. Sebaiknya kita bersatu untuk membuat negara ini baik. Bukankah itu yang kita mimpikan, jangan hanya bicara !!!
Langganan:
Postingan (Atom)